CERPEN : RAHASIA HATI

by Iman Tumorang , at 12:39 PM , have 0 comments
RAHASIA HATI
By: Roselina Sigiro




Mei terhenyak di bangkunya. Gelagat itu sudah dibacanya lebih awal. Jonatan marah emosinya meluap dan suaranya lantang menggetarkan seisi ruangan.
‘’Kamu kamu semua….. otaknya pada di kemanain sich?’’ Jonatan bertolak pinggang didepan kelas. 31 pasang mata menuju kepadanya dengan perasaan takut.
‘’Apa harus dia yang pimpin kelas kita? Kemana cinta Indonesia kalian? Ayo jawab, kalian dibayar berapa?’’ lantang dan marah suara Jonatan menggema diruangan kelas. 31 orang dikelas itu diam bahkan asistennya, sebagai wakil ketua osis ketakutan, wajahnya pucat karna dia yakin pasti dia yang akan kena getahnya yang akan getahnya dari Jonatan.
Tiba-tiba Silvi berdiri dibangkunya, “Aku gak setuju dengan sikap kamu Jon’’
 ‘’Apa? Kamu gak setuju sama sikapku yang mana?’’ ucap Jonatan masih dengan emosi tingkat tinggi.
‘’Pemilihan ketua kelas itu dipimpin oleh wali kelas dengan sistem demokrasi dan itu sah’’  ucap Silvi
‘’Sah apanya? Jauh-jauh hari aku udah menginformasikan kepada kalian agar Mei menjadi ketua kelas, kalian setuju….tapi nyata nya apa? Sikulit putih itu yang kalian pilih? Timpal Jonatan.
Emang apa yang salah sama Ahong. Diakan orang Indonesia juga jadi berhak dong jadi pemilik suara. Anggota dewan aja banyak yang berkulit putih apalagi ketua kelas?” timpal Silvi dengan lagu suara yang tajam.
Jonatan memandang tajam Silvi, giginya gemerutuk tangan dikepal dan “ bukkk’’ meja di hadapan Silvi jadi sasaran.
‘’Awas kamu Silvi ancam Jonatan’’ Silvi tidak takut, percumalah dia sijago karate dan bersabuk coklat.
Suasana kelas kembali tertib saat Ahong masuk bersama wali kelas dengan berkas-berkas ditangan Ahong sebagai tugas ketua kelas. Ahong menang dua suara dari Mei yaitu  14 untuk Mei dan 16 untuk Ahong.
Mei menerima kekalahannya dengan lapang dada, dari awal dia juga tidak berminat jadi ketua kelas . Tapi Jonatan memaksanya karna Jonatan ketua osis banyak tanam jasa kepada Mei, hampir setiap hari Mei menumpang di sepeda motor nya.
Dan akhir-akhir ini Mei dapat merasakan suasana hati Jonatan. Ada bibit-bibit cinta. Sudah 3 kali Mei mendapatkan hadiah dan puisi dari Jonatan walaupun yang buat puisi itu bukan Jonatan melainkan asistennya Gamar, tapi Mei telah senang dan merasa simpatik terhadapnya. Lagian Jonatan itu orangnya baik, tempramen, perfectsionis, ganteng tapi sayang emosional tingkat tinggi. Sakinggantengnya sampai-sampai ada kakak kelas yang telah lama mengejar-ngejar cintanya.
Sepulang sekolah Jonatan lupa dengan Mei yang di ingatnya meminta penjelasan dari Silvi.
“Silvi , berapa kamu dibayar oleh Ahong? Berapa hargamu hingga kamu memilih dia?’’ Jonatan menanya Silvi dengan blak-blakan. Dengan geramSilvi menjawabnya ‘’Dengar ya Jonatan…….. kamu jangan sok idealis, wajah kamu yang ganteng itu jadi jelek kalau kamu pelihara sifat arogan mu itu’’.
‘’Tapi aku udah bilang untuk milih Mei, tapi apa? Kamu malah milih Ahong, padahal kemaren kamu udahs etuju mau milih Mei.’ ’tuduh Jonatan.
‘’Darimana kamu tau kalau aku milih Ahong? Gak usah sok taulah kamu’’ tantang Silvi.
‘’Aku tau, kamu milih Ahong, gak usah bohong dech. Buktinya Ahong menang dua suara sahut Jonatan.
‘Asal kamu tau ya Jon, akujuga milih Mei.Sebaiknya kamu jangan sembarangan menuduh orang   jawab Silvi ketus sembari melangkah dan meninggalkan Jonatan. Jonatan menatap kepergiannya.
 ‘’ Aku tau aku memang pengecut, tapiaku benci orang TiongHoa’’ batin Jonatan. Dia duduk dikursi disampingnya, ia mengingat kakanya yang tergila-gila dengan orang TiongHoa, hingga kakaknya menyusul sang kekasih keJakarta.Tetapi sang kekasih telah mempunyai seorang anak dengan istri yang cantikjelita. Akibatnya kakak Jonatan harus masuk rumah sakit karna nekat bunuh diri.
Rasa dendamnya terhadap orang TiongHoa ditularkan juga kepada Ahong yang tidak berdosa itu dan Silvi tau akan itu sebab Jonatan adalah sahabatnya sejak SD, namanya sahabat kemanapun pasti sama dan semuanya saling mengetahui satu sama lain, namun akhir-akhir ini Jonatan dan Silvi tidak seakrab dulu lagi, karna kedatangan murid baru yang dari Bandung, Mei.
Anak baru yang sangat lemah lembut, tapi kalau masalah kecantikan sich masih lebih cantik Silvi tapi sayang Silvi tomboy, tapi tinggi dan cerdas. Dan sayang Jonatan hanya menganggapnya sebagai sahabat, tapi jauh di dalam lubuk hati Silvi tersimpan rasa simpatik dan rasa sayang kepada Jonatan, Jonatan yang selalu memberikan semangat kepada Silvi dan Jonatan pula yang memotivasinya untuk belajar.Itu yang membuat semangat Silvi dan hidupnya lebih berwana, tapi itu dulu… sebelum Mei hadir dalam kehidupan mereka.
Pagi ini seperti biasanya Jonatan langsung masuk kelas dan segera mencari Mei, Silvi sibuk mengerjakan tugas Biologinya hingga bel les pertama Mei juga belum Nampak, Jonatan heran biasanya Mei gak pernah terlambat.
‘’Silvi,,Mei kemana ya?’’
‘’Gak tau’’,,saut Silvi
‘’Rumah kamu kan berdekatan ?’’
‘’Jadi?? Kalau rumahnya dekat aku harus jagain dia gitu ?’’ jawab Silvi cuek
‘’Kamu kok jawabnya cuek gitu ?’’
Silvi gak menjawab, ada rasa gelisah dihatinya dantiba-tiba wali kelas masuk.
‘’Anak-anak berhubung karna orang tua dari teman kita Ahong meninggal dunia, pagi ini juga kita melayat kerumahnya’’ ucap bu Nisa
‘’Iya buk,’’ jawab anak-anak diruangan itu,
Pukul 10.00 WIB mereka telah tiba dirumah Ahong, dengan dendam dihati Jonatan terhadap orangTiongHoa Jonatan pun berada dibarisan paling  belakang. Tapi dia sangat terkejut melihat Mei duduk disamping Ahong dengan memakai baju hitam, Jonatan pun bertanya-tanya dalam hati, namun untuk sementara disimpannya rapat-rapat dalam hati.
Acara selesai, semuanya bubar, tapi Jonatan masih penasaran dengan semuanya itu. Ada apa antara Mei dengan Ahong sehingga mereka terlihat akrab batin Jonatan, seribu pertanyaan berkecambuk di hatinyasampai malamnya diapergi kerumah Ahong untuk menemui Mei. Kali ini Mei menjauh dari keluarga duka, hingga Jonatan mendekat dan mengajak Mei duduk dikursi taman.
‘’Mei,,, kenapa kamu disini? Pake gak sekolah lagi???? Emang Ahong itu siapa nya kamu?? Tanya Jonatan sambil merasa jengkel menyebutkan nama itu.
‘’Maaf Jon, kamu belum tau siapa aku’’ jawab Mei.
‘’Kenapa Mei? Aku kenal kamu kok, dan kita udah temanan 3 bulan, dan aku…aku…..’’
‘’Cukup Jon, kamu gak tau siapa aku, aku bukan orang yang kamu harapkan. Aku jauh dari impianmu, ,jawab Mei.
‘’Maksud kamu apa Mei ?’’ ucap Jonatan sembari menunjukkan wajah kebingungan.
‘’Papanya Ahong itu pamanku, dan aku juga keturunan TiongHoa, aku juga keturunan dari suku yang paling kamu benci.Memang sih Ibuku kturunan Indonesia, aku mirip Ibuku sehingga aku tidak kelihatan seperti orang TiongHoa.
‘’Tapi…??”jawab Jonatan bingung.
‘’Dan yang paling menyakitkan buat kamu aku dan Ahong telah dijodohkan sejak kecil’’ jawab Mei
‘’Maksud kamu apa Mei ??’’ Tanya Jonatan.
‘’Kami udah tunangan’’.Kali ini perkataan itu dengan tegas keluar dari mulut Mei. Walau ada rasa berat dihatinya karna mengingat kebaikan Jonatan terhadapnya.
Jonatan terkejut,  antara percaya dan tidak percaya tapi itulah perkataan yang barusan didengarnya keluar langsung dari mulut Mei. Berbagai gejolak dan rasa  sakit  yang sesak di dadanya.
‘’Jon, pulanglah! Jangan siksa dirimu, ada satu hat imenunggumu, ada cinta sejati  yang selalu menunggumu disana, Silvi.’’
‘’Haaah….Silvi??? si tomboy sahabatku ?????’’batin Jonatan terkejut.
Tiga bulan yang laluJonatan membuang rasa itu saat kedatangan Mei. Silvi begitu teguh, begitu kukuh dan pastinya cantik walau  tomboy,  tapi kini ia akan membuka rasa itu kembali buat si tomboy  yang  satu ini ‘’TUNGGU AKU SILVI’’ batinnya.
Iman Tumorang
CERPEN : RAHASIA HATI - written by Iman Tumorang , published at 12:39 PM, categorized as Education , Story (Cerpen) . And have 0 comments
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger