Linkaran Cinta part 2

by Iman Tumorang , at 8:13 PM , have 0 comments
Sambungan dari Part 1

Esok harinya, Lesman pun setuju, akan menyerahkan Marta, dengan syarat, dia harus pergi merantau ke tanah Padang. Karena terasa sangat menyedihkan jika melihat Abang dan Kekasihnya  menikah di depan matanya. Semua setuju dengan perkataan Lesman.  Sekarang tinggal Lesman yang harus berhadapan dengan Marta. Mungkin Marta akan marah besar padanya. Karena memperlakukan Marta seperti “barang” yang gampang saja di serahkan pada orang lain. Tetapi apa daya, mungkin Marta akan mengerti pikirnya.
Maka berangkatlah malam harinya Lesman ke rumah Marta. Dia merasa seperti orang tolol. Melakukan hal yang tidak disukainya. Haruskah aku menyerahkannya pikirnya kembali sebelum mengetuk pintu rumah Marta.
“Tok, tok, tok”
“Siapa?”
“Ini Aku..”
“Eeehh.. Bang Lesman??”
“Iyah…”
“Ngapain bang, ini kan bukan malam minggu , haha” tanya Marta bercanda, tanpa mengetahui maksud kedatangan Lesman
“Aku sayang kamu Marta..” ucap Lesman, sambil memeluknya, tanpa disadari air matanya menetes.
“He?? Kamu kenapa sih Bang..”
“Kamu sayang gak sama aku??” tanya Lesman , di kala air matanya berlinang.
“Iya…, kenapa rupanya bang..?”
“Kalau, kamu sayang aku, berarti aku bisa minta tolong…” ucap Lesman mulai tegar. Dan dia sudah sedikit mampu menguasai hati dan pikirannya yang berkecamuk.
“Iyaa, emang minta tolong apa bang?”
“Hmmpp hhhhh” Lesman pun menarik napas panjang, untuk membuatnya lebih tenang.
“Besok, aku berangkat ke Padang.”
“Maksud abang apa?Abang pergi dan tinggalkan aku di sini?” Tanya Marta , terlihat wajahnya sedang bertarung melawan air mata, keluar dari sarangnya yang indah.
“Besok aku akan berangkat ke padang. Dan kau tahu Abangku Togar kan?”
“Dan kau pasti tahu, sampai sekarang dia belum nikah. Aku kasihan padanya.” Lanjut Lesman
“Maksudmu apa banggg..?” tanya Marta mulai ketakutan. Entah takut atau sedih yang dia rasakan tapi tetap saja, mata indahnya masih berusaha untuk menantang air mata agar tidak turun.
“Hmmpp hhhhh, aku ingin Kamu menikah dengannya. Aku ingin kamu lupakan semua tentang kita. Aku ingin….” Lesman tidak sanggup untuk berkata lagi, sangat perih rasanya untuk mengucapkan kata-kata yang tajam itu, yang mampu menembus semua dinding tebal kerasnya batuan hati , dan waktu. Dia hanya menangis, sambil memeluk kembali Marta.
 “Bang.. , Apa kau ini Idiot? Apa tidak ada tenaga mu melawan.? Kamu ini lelaki atau bukan sih?” bentak Marta marah, dan melepaskan pelukannya. Mungkin dia mulai sadar, perlakuan Lesman, yang menganggap dia seperti barang, yang bisa diserahkan kepada orang lain.
“Pokonya aku tidak mau bang. Unutk pria lain mungkin aku sanggup, tetapi untuk abangmu, aku tidak sanggup bang. Bagaimana mungkin kami menikah, sementara kalian itu bersaudara. Pastinya aku akan mengingatmu terus. “
“Aku tahu Marta.., untuk itulah aku pergi besok, agar aku tidak melihat kalian menikah.”
“Tolonglah Marta. Besok aku berangkat ke Padang, dan besok juga keluargaku akan datang melamar kau. Tolong lah aku. Lagi, kamu kenal abangku, dia itu orang baik, bahkan lebih baik dari aku. Dia juga sudah bekerja, PNS, masih kah kau memilih aku yang hanya pengangguran ini.”
“Iya, tapi… arghhhhh”
“PLAKKKK” sebuah tamparan mendarat di pipinya Lesman. Dan Marta berlari sambil menangis ke kamarnya.  Dan Lesman, hanya termenung seperti orang tolol di depan pintu. Dan Akhirnya terpaksa pergi pulang, karena sudah larut malam. Dia merasa, malam ini akan menjadi malam terberat yang pernah di alaminya. Begitu banyak pikiran yang menggangu tidurnya. Sehingga tidak ada sempat waktu untuk bermimpi tentang hari esok.

“Bang. Kau jaga Marta baik-baik ya. Jangan pernah buat dia menangis.” Pesan Lesman sebelum berangkat.
“iyaa, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kamu hati-hati di sana ya. Dan terimakasih banyak karena kau telah mengorbankan perasaan mu pada abangmu ini.” Ucap Togar melepaskan Lesman.
Maka berangkatlah Lesman, dengan pikiran yang berkecamuk. Tanpa sempat untuk permisi pada Marta. Dia berharap Marta bisa mengerti, dan mau menikah dengan Togar. Dan dia meyakini itu.  Marta juga sangat baik. Dan tidak mungkin dia menolak Togar yang juga baik dan punya pekerjaan.
Di lain sisi, saat malam harinya, Marta pun di lamar oleh Togar dan keluarga. Mungkin sedikit kuno. Seperti layaknya jaman Siti Nurbaya. Tetapi, ini tidak seperti hal itu. Dan Marta terpaksa menerima lamaran itu meski tidak sepenuh hati dan perasaanya.

Setelah, terencana dangan baik. Maka menikahlah Marta dan Togar. Pestanya sangat meriah. Karena hampir semua mengenal Togar di kampung itu.
Namun, hampir semua tamu itu menanyakan tentang Lesman. Karena tidakada yang percaya, Togar dan Marta, karena selama ini, Marta dikenal dekat dan bahkan berpacaran dengan Lesman.
“Malangya Lesman” hanya itu kata-kata yang mampu di ucapkan teman-teman Lesman saat menghadiri pernikahan Marta.
Sementara itu, drirantau orang. Lesman tidak berhenti memikirkan Marta. Semua terasa pahit untuk dirasa dan dilihat. Tak ada yang mampu dapat menghibur perasaan Lesman.
Akibatnya, dia jatuh sakit. Badan kurus. Mungkin dia telah lelah bertarung dalam lautan pikirannya yang tidak bisa di sentuh tangan semua orang. Tahun demi tahun telah terlewat. Dan itu malah memperburuk keadaanya.
“Tuhan, aku tahu dia bukan jodohku. Untuk itu hibur aku Tuhan. Kau berikan jodoh padaku yang lebih pantas dari aku. Bantu aku melupakannya” kata-kata yang selalu di ucapkan Lesma setiap berdoa di malam hari. Mungkin siang, dia dapat melupakan untuk sebentar, karena disibukkan oleh pekerjaan dan kegiatan. Tetapi saat malam menyeka, kepedihan itu pun datang tanpa diundang, dan memaksa masuk kedalam pikirannya.

4 tahun berlalu. Dia pun mulai mampu untuk melupakan Marta. Dan memutuskan untuk pulang ke kampung, ingin melihat bagaimana keadaan Abang dan Marta. Apakah mereka sudah punya anak. Pasti senang dan lucu jika melihat anak mereka pikirnya.

Tetapi niatnya berubah, karena baru saja di membereskan barang-barangnya, dia mendapat telepon dari Orangtuanya di kampung.
“Les, pulang dulu kau, Abangmu Togar meninggal kecelakaan” telepon ibunya sambil menangis di seberang telepon.
“A.aa Pa…? Mama bercandakan?” ucap Lesman terkejut.
“Tidak Lesman, Abangmu udah Pulang nggghh nghh” Ucap Ibunya dari sana sambil menangis.”
“Tat.. ta. Tapi..?? Iyaudah, pulang pun aku..”

Maka berangkatlah Lesman dari Padang ke Sidikalang. Dia tidak menyangka niatnya awalnya hanya untuk berkunjung melihat keponakannya. Tetapi justru melihat Abangnya.
“Tuhan, apa yang kau rencanakan?” batinnya.

******

Setelah kepulangan Togar, dunia Marta terasa sangat redup. Mungkin dia sanngat terpukul akan kepergian Togar, yang meninggalkannya dengan dua orang anak mereka yang masih kecil. Dia tidak tahu, bagaimana dia nanti membesarkan anaknya ini tanpa sosok suami yang membantu. Terlebih pekerjaanya yang hanya tukag salon. Penghasilannya tidak pernah menetap.
Dan , Lesman, setelah kepergian Togar, dia tidak diijinkan untuk kembali ke Padang oleh orangtuanya. Karena takut kehilangan Lesman lagi, jika Lesman harus pergi juga, siapa lagi penerus keluarga ini.

Setahun sudah berlalu terpaksa Lesman, melamar kerja menjadi guru honorer di salah satu SMP ,tempat abangnya dulu bekerja. Dan, meski bunga itu sudah layu, sang kumbang tetap datang kembali untuk membuat bunga itu segar kembali dan cantik seperti dulu. Meski Marta sudah beranak dua, tetap saja Lesman masih menyimpan perasaan pada Marta.
Higga suatu hari Lesman, datang ke rumah Marta.
“Hai..” sapa Lesman saat melihat Marta sedag menata rambut pelanggannya
“Eh..? Lesman ya?” balas Marta dengan senyuman yang tidak bisa di lupakan oleh Lesman sejak pertemuan mereka kali pertama.
“Haha, iya, masih lama”
“Iya, sebentar..”
Selang beberapa menit..
“Bagaimana? Kamu sudah menikah..?”
“Belum..” jawab Lesman
“Bh?? Jadi kapan lagi, nanti keburu beruban.”
“Haha iya…”
Hening untuk sesaat…
“Bagaiman kabar keponakanku” Lesman memecah keheningan
“Oh.. mereka lagi pergi keluar bermain.”
“Jadi.., ?” Tanya lesman, tanpa tahu maksud pertanyaan itu.
“Hahah, Aneh kau ini, kok Jadi?”
“Haha iya, Jadi? Kamu tdak ada rencana untuk mencari papa baru untuk mereka”
“He? Maksudmu?”
“Aku masih sayang padamu Marta,”
“Haah, aneh-aneh pikiranmu ini.”
Dan.. Lesman pun memeluk Marta untuk sesaat, tanpa diketahui Marta, Lesman akan melakukan itu. Terasa Lesman sangat merindukan pelukan itu. Setelah 5 tahun tidak pernah bertemu.
“Ahh sudah, nanti dilihat orang, bikin malu.”
“Kamu mau kan kembali padaku.?”
“Ahh tidak tahulah, aku tidak yakin kamu bisa menyayangi anak-anakku sama seperti kamu menyayangi aku.”
“Kamu bisa pegang janjiku, aku akan menyayangi anakmu seperti aku menyayangimu.”
***

Maka merekapun menikah setelah meminta persetujuan dari orantua masing-masing. Dan anak-anak Marta, akhirnya mulai belajar untuk memanggil Ayah kepada Lesman.

***
Semua sudah di atur Tuhan, tidak perlu seberapa besar usaha kita untuk melawan, jika sudah kehendak Tuhan, maka terjadilah. Karena tidak ada yang lebih kuat dariNya…..
TAMAT
Iman Tumorang
Linkaran Cinta part 2 - written by Iman Tumorang , published at 8:13 PM, categorized as Story (Cerpen) . And have 0 comments
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger