CERPEN :Kisah Cinta di Danau Toba

by Iman S S , at 1:02 PM , have 0 comments
KISAH CINTA DI DANAU TOBA
By: Fortina Lb. Gaol





Jika ada dua pilihan:berangkat ke kampung halaman atau ke Singapura, Hendra pilih ke samosir. Meski ke kampung halaman berisiko penat berkepanjangan bahkan capeknya belum hilang meski sudah kembali ke Jakarta, tak masalah. Soalnya,rencana perjalanan kali ini ada some one special.          
             “Ndra kemana kita liburan ini?” tanya Hendry.
            “ke samosir saja lah yok....” sahutnya.
“iyalah iya.,, mentang-mentang Anit ada disana, semangat kali .....” sindir Hendry sambil tersenyum sinis.
Jangankan bersua dengannya, mendengar nama Anit  saja, Hendra sudah bersemangat. Ya,perempuan itu selama ini telah menjadi magnet bagi Hendra .                                                                                                 ”Ndra pa sih yg kau lihat dari Anit????”tanya Hendry
   “Bagiku  Anit adalah wanita yang super lengkap”  sahut Hendra         
       Perhatian sorot matanya begitu indah! seksama senyumannya, lepas terurai tanpa beban. Anit memang dari warga kebanyakan tapi perangai dan santunnya,priyayi. Dan tutur katanya Anit datang dari keluarga kelompok cendikiawan.
            “Kenapa senymu-senyum Ndra????” tanya hendry.
“Yeee....siapa yang senyum-senyum...” jawab Hendra ketus.
“ Itu namanya apa donggg,,,,,!!!” ledek Hendry.
“ Ya,,ya,,ya.. aku ngaku deh..” sahut Hendra.
***
“Ndra kalau suatu saat kamu mencari pendamping harus yang baik hati yaa nak”
 “Beres bu,,,,”
Menurut Hendra, Anit tidak hanya baik hati, tapi juga peduli. Cuma sedikitlah perempuan di Jakarta yang masih memegang adat istiadat seperti Anit.
            Tetapi, meski begitu terkesannya Hendra pada Anit, hingga detik ini Hendra belum pernah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya bahwa dia naksir pada Anit. Banyak pertimbangannyalah... 
           Dikampus, Anit menjadi incaran tiap pria. Sampai- sampai Hendra berkesimpulan, jika ada lelaki yang tak tertarik pada Anit, harus dipertanyakanlah kejantanannya. Banyak cowok, baik dari kelempok yang berkecukupan maupun kalangan atas naksir berat padanya. Tetapi, Anit mengabaikannya saja. “Berteman sih mau tapi kalau yang lain nanti dululah”.
            “Aku kemari kan mau menuntut ilmu, bukan cari lelaki,”jawab Anit ketika Hendra bertanya kenapa tak bersedia menjawab permohonan Rangga. Rangga itu anak orang kaya, orang tuanya pejabat.
            Rizki tak jauh beda. Modal tampang dan kekayaan membuatnya lebih mampu meraih Anit, tapi lagi-lagi perempuan itu menolak dengan alasan serupa.
             “Rangga dan Rizki ditolak, apalagi aku hanya seorang anak petani yang mencoba merantau ke Jakarta” gumam Hendra dalam hati.
 Niatnya sih kuliah, menimbah ilmu sebanyak-banyaknya dengan modal sedikit-dikitnya. Modal pun tergantung kiriman dari kampung. Hhh tapi yang namanya suka, gak mungkin di telantarkan begitu saja.
             Di dinding kamar kost Hendra, entah berapa ratus puisi ia ciptakan untuk Anit. Diransel kumal Hendra, hampir penuh coretan yang ditujukan untuk Anit. Tetapi yaaa.. itu tadi Hendra membuatnya tanpa sepengetahuan Anit.
            Setiap kali Hendra bertemu dengan Anit dan berpisah darinya Hendra sering menyesal karena ia tidak berani mengatakan isi hatinya kepada Anit. Meskipun demikian Hendra tidak pernah patah semangat untuk  menunggu  waktu yang cukup tepat.
                                                            ***
            Itu sebabnya, ketika Hendry dan Clara mengajak Hendra liburan, Hendra langsung bilang ke kampung halaman. setelah tahu Anit ikut.
            Padahal, saat yang sama ada acara yang harus ia datangi tetapi ia rela untuk meninggalkan acara itu hanya untuk Anit.
            Sampai di bandara Polonia Hendra memberanikan diri mendekati  Anit. Tetapi, meskipun sudah dekat dengan Anit  tetapi Hendra tidak berani mengungkapkan isi hatinya pada Anit, lidahnya terasa kaku dan mulutnya seperti  terkunci.
  “ Anit, tasmu biar aku aja yang bawa ya,,”kata Hendra.
   “ Ok,,,,, makasih duluan ya dah bantu aku”sahut Anit
   Tak terasa mereka sudah tiba di Hotel yang ada di Parapat. Begitu kamar sudah dibagi,
   “Ndry kita roker yaa,,” Hendra minta roker dengan Hendry. Hendra minta kamar tepat dekat dengan kamar Anit
     . Ehhhh....begitu juga dengan Anit, Anit tidak mau sendiri dia ditemani Clara yang kamarnya ada di depan kamar Hendra dan Hendry.
    “ Cocoklah,,,,” gumamHendra.
            Meski  sebenarnya Hendra sudah merasa lelah, ia tetap melayani Anit. Semua yang dubutuhkan Anit, mulai dari keperluan seharian hingga informasi soal pulau samosir, setelah mereka menyeberang dari tuk-tuk ke tomok, samosir.
            Setelah mengelilingi samosir rombongan mereka menepi. Angin sepoi membelai Anit. Hendra memperhatikan perempuan molek itu sambil menelan liurnya sendiri.
     “Tuhan kau ciptakan wanita sesempurna Anit  tapi kenapa tak Kau gerakkan hatinya untukku,,,,,” gumam Hendra dalam hati.
            Tiba-tiba angin berhembus makin kencang hingga membuat Anit makin menggigil. Hendry yang usil meminta Hendra untuk melindungi Ani.
        “Ndra sini dong,,,, “
“Iya Ndra.... disini donk,” ujar Anit sambil menunjuk kursi tepat di sisinya.
Secepat kilat Hendra  pindah kesamping Anit merapati tubuhnya. Anit bersandar.
“Aduuhh betapa bahagianya hatiku disandari perempuan pujaan,,,,” gumam Hendra dalam hati.
“Ndra, kok diam saja sih?”
Hendra tersenyum. Jantungnya berdegub kencang. Kencang sekali. Haruskah kukatakan saat ini, di depan orang banyak? kalau nanti Anit menolak? Gumam Hendra.
“Sariawan ya, Ndra?”
Hendra masih bungkam dan gemetaran. Tuhan,  turunkan malaikatmu untuk membuka hati Anit. Tuhan.....
“Atau tak suka aku sandarin !!!”
Hendra menatap Anit dalam-dalam sambil senyum.
“Sepertinya ada sesuatu ya, Ndra,,,,,,,”
Hendra memberanikan diri memegang  jemari Anit.”Nit ke depan yuk,,?????” Hendra, mengajak Anit kedepan feri.
“Ayoo ,,,,”jawab Anit
 Berdua mereka meniti dinding  alat angkut danau tersebut. Kecipak air, hembusan angin semakin membuat  jantung Hendra berdebar, tapi dia memberanikan diri untuk bicara dengan Anit.
 ”Anit tak pernah paham perasaan ku, iya. Atau sengaja menggantungku,iya?”
“maksudnya? “
“Aku menyayangimu.......”
“Maksudnya....?”
“Anit kok mempermainkanku sih?”, tanya Hendra
 “Maksudnya,” jawab Anit sangat serius. Mukanya jadi ketat.”bukankah selama ini Hendra yang diam dan mendiamkan diri?”
Hendra jadi diam lagi. Jantungnya gak tahan. Tuhan tolonglah aku. gumam Hendra.
“kok bisu..?”sergap Anit.
Hendra semakin gemetar. Gemetarannya membuat ia hilang kontrol hingga ia tercebur ke danau.
Hendra tidak pandai berenang  tapi masih coba mengapung sambil minta tolong. Anit berteriak minta tolong hingga nahkodah ikut membantu.
Entah berapa jerigen air danau yang sudah terminum Hendra. Yang dia tahu tubuhnya direbahkan di lantai dan perutnya di tekan-tekan Anit. Perempuan itu pula yang memberi Hendra napas buatan.
                                    ***
Malam beranjak dingin. Hendra melihat Anit ada disisinya. Begitu Anit tahu Hendra sudah siuman dan bisa diajak ngomong, Anit langsung marah! Anit menuduhkan nekad tapi pengecut.
”Kalau mau mati. kenapa harus di depan ku?”
Hendra bungkam saja. Sengaja mulutnya tak mengeluarkan kata-kata.
“Kau bilang apa???? Tanya Anit kali ini berbisik di telinga Hendra.
Hendra memberanikan diri merangkul leher Anit hingga tubuhnya terpapar, merapat ke tubuh Hendra. ”Aku menyayangimu!!”.
Anit tak menjawab tapi dengan  gesturenya membalas rangkulan Hendra,Hendra merasakan hangatnya napas cinta Anit.
Iman S S
CERPEN :Kisah Cinta di Danau Toba - written by Iman S S , published at 1:02 PM, categorized as Education , Story (Cerpen) . And have 0 comments
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger