CERPEN : Maafkan Aku dan Jiwaku

by Iman Tumorang , at 7:28 PM , have 0 comments
Maafkan Aku dan Jiwaku
Karya : Lisa Zhi 




“Tring..tring..tringg.”                                         
             Bel sekolah pun berdering pertanda jam pelajaran segera dimulai. Lagi dan lagi, seorang siswa berlari sekencang mungkin tanpa memperhatikan jalannya, menabrak orang yang ada di sekitar jalan menuju sekolahnya demi mengejar waktu. Namun, usaha yang dilakukan tetap saja sia-sia, dia masih saja datang terlambat dan akhirnya mendapat hukuman lagi. Siapa di sekolah ini yang tidak mengenalnya? Si gadis cupu yang bloon dan lengkap dengan gaya yang norak, itu dia Zhivana Flawrensia.
             “Astaga. Kenapa aku ini? Selalu saja begini.” omelnya pada dirinya sendiri.
             “Hey, kamu! Tidak usaha banyak bicara, kerjakan saja hukuman yang diberikan itu dengan baik. Segeralah selesaikan!” bentak satpam SMA Pelita Harapan.
             “Iya, Pak! Ini jugakan sedang saya selesaikan dan sebentar lagi akan selesai, Pak.” jawabnya dengan tatapan sinis.
             “Baguslah kalau begitu. Segera selesaikan dan jangan datang terlambat lagi. Bapak sudah bosan melihatmu selalu datang terlambat dan kena hukuman.” Kata pak satpam padanya.
             Setelah menyelesaikan semua hukuman yang diberikan, akhirnya Zhivana mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Setibanya di depan kelas, dia masih saja berfikir mau ingin mengetuk pintu atau tidak karena dia tahu bahwa saat itu adalah mata pelajaran yang paling tidak disukainya yaitu,  Matematika. Dan dengan berani dia pun mengetuk pintunya.
             “Tok..tok..tok..”
             “Masuuuuuuuuukkkk!!” teriak semua siswa di kelas itu.
             Perlahan-lahan dia pun melangkahkan kakinya masuk ke kelas dengan kepala merunduk malu. Semua siswa di kelas itu pun berbisik seakan-akan menertawai apa yang ada pada dirinya.
             “Jangan-jangan kamu terlambat bangun lagi ya, Vana?” tanya Ibu guru padanya dengan tatapan sangat kecewa.
             “Dia terlambat karena mengurus rambutnya yang kumal itu, Bu.”sahut salah satu siswa di kelas itu memotong apa yang akan disampaikannya.
             Serentak anak-anak di kelas itu pun menertawai dan melemparinya dengan kertas.
            “Uuuhhhuuuuuuhhh!!” ejek sekelasnya dengan nada yang menyindir.
            “Huussssh!! Sudah anak-anak, jangan bertindak seakan-akan kalian tidak pernah melakukan hal yang sama sepertinya datang terlambat.” sahut Bu guru dengan tegas membuat mereka terdiam.
             “Begini, Bu. Anuuuu..eeeee…” katanya sambil bingung ingin mengatakan apa.
             “Yasudahlah, kamu duduk saja dan kita lanjut pelajaran kembali.” potong Bu guru.
             Pelajaran pun dilanjut dan dia berjalan ke bangkunya dengan lesu. Sindiran-sindiran sekelasnya terus mendatanginya. Duduk terdiam dan mencoba tak menghiraukan semua desiran angin sindiran yang terus menghampirinya.
             Akhirnya, bel pun berbunyi menandakan pelajaran pun usai untuk hari ini. Memberesi satu persatu buku yang ada dimejanya. Setelah selesai, dia pun melangkahkan kakinya berjalan pulang ke rumah. Tanpa disengaja, dia melihat cowok yang disukainya masih dikelasnya Siapa lagi kalau bukan sang ketua osis, Edward. Diam-diam dia pun mengintip dari balik pintu sambil memandangi lelaki itu dengan serius.
             “Mengapa kamu begitu keren Edward? Rasanya ingin melihatmu tersenyum padaku walau hanya sekilas.” gumamnya dengan penuh harap.
             Tiba-tiba lelaki berjalan menuju pintu, Zhivana pun terkaget dan segera menyembunyikan dirinya. Dan rasa gugup dan deg-degan itu terus saja menyelimuti hatinya. Entah apa yang harus ia lakukan. Akhirnya Edward pun tak tampak lagi di lorong kelasnya, dia pun memberanikan diri keluar dari balik tembok lorong kelas itu. Segera dia pun melangkahkan kakinya keluar dari sekolah dan kembali ke rumah.
             “Setidaknya melihatnya saja membuat hatiku lega untuk hari ini.” katanya dalam hati sambil tersenyum riang..
            Sesampainya di rumah, selalu saja sehabis makan siang dia mengurung dirinya di kamar dan menghabiskan waktunya dengan membaca novel atau sejenisnya.Itu selalu terjadi hingga larut malam dia mengurung diri di kamar.
             “Mengapaaa? Kenapa tidak ada yang mau mendengar jeritan hatiku? Aku lelah. Hingga tak seorang pun yang ingin berteman denganku. Apa yang salah pada diriku?” jeritnya sambil meneteskan air mata.
            “Deng..deng..dengg”                                  
             Jam pun menunjukkan pukul 00.00 dan bunyi jam itu membuat Zhivana terkaget dari lamunannya. Sepertinya pikiran itu kembali membuatnya insomnia dan tertidur di meja belajar.

***
           
            Bunyi alarm membangunkanku dari tidur dengan mimpi aneh. Jam telah menunjukkan pukul 07.00, segera aku berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Dan dia juga menyadari bahwa dia pasti akan terlambat lagi. Dia tetap berusaha untuk tidak telat. Namun, sayang saja dia tetap saja terlambat dan kembali mendapat hukuman yang seperti biasa di jalaninya sehari-hari di sekolah.
             Setelah menyelesaikan hukuman, dia pun kembali ke kelas dan mengetahui kelasnya dalam keadaan sedang free les. Begitu dia menginjakkan kaki di kelasnya, lemparan tepung pun menjadi santapan lelucon semua teman sekelasnya.
             “Hey, gadis culun! Masih betah saja kau sekolah disini.” kata ketua kelasnya dengan nada menertawai.
             “Kenapaaaaaaa?? Apa salahku pada kalian semua? Kenapa kalian memperlakukanku seperti hewan?” sahutnya dengan nada kesal.
             “Hahaha.. Sadar diri donk! Kamu itu terlahir dari keluarga broken home dilengkapi dengan wajah yang culun seperti ini.” jawab ketua kelas padanya.
             “Ya, benar. Wajah culun yang pantas disiksa.” kata seorang dari sudut sana yang mengundang tawa sekelas.
             “Ya, kalian semua benar. Aku ini culun, kumal, bodoh, terlahir dari keluarga broken home. Tapi apa salahku pada kalian semuaaaaaa?” jawabnya seraya air mata menetes di pipinya.
             “Uuuuhh.. dia menangis. Bagaimana ini? Kita harus melakukan apa padanya?” sindir temannya yang sambil memecahkan telur di kepalanya.
             Segala penyikasaan itu pun berakhir disaat bel berbunyi menandakan waktu istirahat tiba. Segera dia berlari ke kamar mandi dan mengundang mata yang melihatnya sambil tertawa berbisik-bisik di hadapannya. Dia pun tak peduli dan terus berlari menuju kamar mandi. Tanpa disengaja, dia pun bertabrakan dengan lelaki yang ia sukai. Namun, dia tak peduli lagi. Dia hanya berlari terus menerus menuju kamar mandi untuk membersihkan sekujur tubuhnya. Tanpa dia sadari sebenarnya lelaki itu memperhatikannya dengan perasaan sakit ketika melihat wanita yang disukainya terluka. Namun, lelaki itu tidak tahu berbuat apa, lelaki itu sadar juga pernah melakukan hal yang sama padanya. Pernah menolaknya di depan umum.
             Di toilet, dia hanya bisa memaki-maki dirinyaa itu.
             “Kenapa kau begini? Tidakkah kau bisa membalikkan keadaan? Aku butuh seorang saja mendengarkanku. Beri aku kekuatan untuk bertahan.” sahutnya dengan deraian air mata mengalir di pipinya.
             Mulai saat itulah dia menemukan seorang yang bisa mendengar jeritan hatinya itu dengan fikirannya. Dan mulailah dia bercerita seperti orang gila.
             “Apa yang harus kulakukan? Mereka selalu saja menyiksaku tapa aku tahu aku salah apa. Atau aku yang merasa tersakiti?” katanya sambil \menangis kemudian tertawa.
             “Kenapa kamu tidak membalas apa yang mereka perbuat padamu? Kamu bisa membuat yang lebih kejam daripada itu, bukan?” jawab seorang padanya.
             “Apa aku perlu membuat mereka satu persatu ketakutan hingga merasa bahwa mereka dalam keadaan yang menakutkan?” katanya sambil mulai tersenyum seperti orang gila.
             “Ya, benar. Kamu harus melakukan itu. Kamu harus membuat mereka lebih merasakan sakit dari apa yang pernah kau rasakan itu.” jawab orang itu lagi padanya dengan girang.
            “Ya, kamu benar. Dan aku akan memulainya dari sebuah perubahan penampilan. Akan kubuat mereka kaget bahwa aku bukan gadis cupu lagi tapi gadis yang mempesona.” katanya dengan tawa yang keras.


***

Keesokan paginya, Zhivana merubah penampilannya dengan drastis hingga membuat semua orang tak mengenalinya. Dan ajaibnya, dia tidak datang terlambat, entah apa yang bisa membuatnya seperti ini.
“Baiklah, aku akan mulai dari orang-orang yang pernah menyakitiku.” jelasnya sambil membuat daftar orang-orang itu.
“Benar. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Itu tidak salah mereka pantas mendapatkannya.” jawab temannya itu.
Perlahan-lahan dia telah membeli sebuah boneka dengan uang tabungannya bertahun-tahun. Lalu, ia merobek-robek boneka itu dan membuat sebuah bercak darah pada boneka itu dan meletakkannya di atas pintu kelas.
Ketika sekelompok orang mulai membuka pintu itu, tiba-tiba jatuh boneka tersebut dan mengagetkan semua orang yang melihatnya. Melihat itu, dia tersenyum sinis dibalik tembok lorong kelasnya. Tanpa disadari orang-orang di sekelilingnya, dia berpura-pura datang terlambat seperti tidak tahu apa yang terjadi.
“Hey, gadis culun! Ini perbuatanmu kan? Kau kira dengan merubah penampilanmu, orang akan iba denganmu? TIDAK AKAN!!!” tegas seorang gadis padanya sambil menarik rambutnya.
 “Aku  tidak tahu apa-apa. Kenapa dengan kalian yang menindasku lagi? Aku tidak berbuat apa-apa.” jawabnya sambil berjalan menuju bangkunya.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!” teriaknya tiba-tiba ketika melihat lacinya berlumuran darah.
Semua isi kelas pun heboh. Namun tanpa mereka sadari Zhivana tersenyum kemenangan karena mereka masuk dalam jebakannya. Namun, ada hal yang tiba-tiba aneh terjadi. lelaki yang disukainya tiba-tiba ada di kelasnya dan menghampirinya.
“Apa kau tidak apa-apa? Ada yang terluka? Siapa yang melakukan ini?”kata Edward dengan wajah yang begitu cemas.
“Oooh..Hmm.. aku tidak apa-apa.” jawabnya dengan wajah bingung dengan apa yang terjadi sekarang.
“Yasudah. Bagaimana kalau kamu ke UKS?” tanya Edward padanya.
“Oh, baiklah.” jawabnya dengan singkat.
            Semua gadis-gadis yang mengagumi Edward pun cemburu pada Zhivana yang mendapatkan perhatian dari cowok idaman di sekolah tersebut sehingga menimbulkan gosip-gosip yang tidak menyenangkan. Ada yang bilang jika semua itu karna si gadis culun sudah berubah penampilannya. Gosip itulah yang membuat Zhivana semakin geram dengan semuanya. Dia pun mengira bahwa gosip itu benar dan Edward juga harus menerima akibatnya.
            Lama kelamaan Edward dan Zhivana semakin dekat. Dan akhirnya, Edward pun memberanikan dirinya mengungkapkan perasaannya.
            “Vana, sebenarnya dari awal aku menyukaimu. Kejadian yang saat aku menolakmu di depan umum sebenarnya kuakui aku masih malu saat bersanding denganmu. Namun, setelah kusadari aku salah telah berfikir demikian. Maafkan aku, Van.” katanya pada Zhivana dengan rasa penyesalan di hati.
            “Sudah, lupakan saja semua. Kini semua sudah terbukti bahwa gosip yang beredar bahwa kau menyukaiku karna perubahan penampilanku sudah terbukti.” jawabnya dengan tatapan sinis dan berjalan meninggalkan Edward.
            Yang hanya bisa dilakukan Edward hanya terdiam dengan kata-kata Zhivana yang terngiang di telinga. Tanpa disadari sebenarnya, Zhivana sudah merekam pembicaraan mereka dan keesokan harinya menyebarluaskan itu untuk memepermalukan Edward.
            Kini semua orang hanya bisa menertawai Edward, dan mengatakan bahwa Edward munafik atau apalah. Namun, Edward terdiam dan tak peduli.
            ‘Terserah pada kalian mau berkata apa karena aku memang salah tak jujur dengan perasaanku sebenarnya.” bisiknya pelan ketika melewati semua orang yang menjelekkannya.
            Kini semua yang terjadi pada orang yang disakiti Zhivana mulai membuat Zhivana semakin gila untuk membalas semua rasa sakit yang dirasanya.
            “Bagaimana? Apakah ini sudah memuaskan? Menakuti dan membuat malu orang yang menyakitiku.”katanya pada temannya
            “Kamu bisa membuat hal yang lebih menyakitkan lagi. Kamu bisaaaa!! Kamu bahkan bisa membunuh orang yang mengatakan kamu broken home. Buat orang tuanya menangis sampai mereka juga merasakan sakit yang kau rasa” jawab teman itu.
            “Kamu benaaaaar!!” sahutnya dengan tawa menggila.
            Ketika kembali ke kelas, seorang teman sekelas itu menarik rambut Zhivana dan mencekik lehernya dan dia tahu kalau selama ini yang menakut-nakuti kelas ini adalah dia.
            “KAAAUUU!! Beraninya kau menakuti kami sekelas ini. Kau kira kau sudah hebat?!” bentaknya pada Zhivana sambil melempar tas Zhivana yang berisi boneka dan sekantung darah.
            Zhivana hanya membalasnya dengan senyuman tawa.
            “Beraninya kau masih tertawa disini.” Kata seorang lagi padanya.
Tanpa basa-basi pisau yang sudah ada di kantung Zhivana segera ia keluarkan dan ia menusuk gadis yang mencekiknya itu. Semua orang kaget dengan perbuatan Zhivana dan segera melaporkan kepada guru. Dan karena kesalahan yang dilakukannya dia pun mendapat hukuman untuk dikeluarkan dari sekolah. Dan untung saja teman yang ia tusuk itu masih bisa bertahan hidup.
“Kenaaaapaaa? Kau memberiku saran untuk berbuat pa yang seharusnya tidak kulakukan? Kenapaa? Jawab akuuu!” katanya sambil membenturkan kepalanya ke dinding.
“Aku adalah kamu. Aku adalah pikiranmu yang penuh dengan dendam. Aku datang padamu ketika kamu diselimuti dendam itu.” Jawabnya.
“Benaaar, Ini semua salaahku yang tak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Seharusnya aku punya cara lain untuk mengatasinya. Seharusnya aku percaya ini semua cobaan yang akan membuatku kuat dan membuatku berdiri kokoh nantinya. Maaafkan akuu .” ucapnya sambil beruraian air mata.

***

Sebelum pergi menjauh ke desa, Zhivana menuliskan sebuah pucuk surat kepada semua temannya satu persatu dengan isi yang sama,
“Aku dan jiwaku berbuat hal yang tidak seharusnya kulakukan. Membalas dendam yang kini membuatku dalam penyesalan. Seharusnya aku percaya pada kalian bahwa kalian memperlakukanku seperti itu untuk membuatku lebih tegar dan kuat menghadapi segala kekurangan hidupku ini. Aku bukanlah orang yang tersakiti sebenarnya tapi aku adalah orang yang beruntung dapat merasakan segala perasaan yang ada baik itu cinta dan kesakitan. Aku dan jiwaku hanya bisa berkata TERIMA KASIH mengajarkanku menjadi pribadi yang tahu bahwa semuanya cobaan itu indah ketika kita diharusnya KUAT menghadapinya dan itulah yang menjadikan kita pribadi yang LUAR BIASA. Maafkan aku dan jiwaku yang dipenuhi dendam itu. Kini aku akan mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berhagialah buat teman semua. Love you all ”
Demikianlah surat yang ditujukannya Zhivana pada semua temannya yang mengundang dercak penyesalan, kagum dan bahagia padanya serta tangisan saat membacanya.
Namun ada sebuah surat special lagi ditujukkanny khusus untuk Edward berisi,
“Terima kasih memberiku ketulusan cintamu, yang tak membalas apa yang kuperbuat saat mempermalukanmu. Itulah namanya ketulusan. Terima kasih mengajarkanku segalanya. Temukanlah wanita yang mencintai ketulusanmu maka ia akan membuatmu bahagia. Aku akan turut serta melihat kebahagiaanmu nantinya. Semangaat!! Maafkan aku dan jiwaku ini yang tak bisa memberimu ketulusan.. berbahagialah maka sekitarmu akan berbahagia..”
Surat ini pun yang mengundang tangis Edward ketika membacanya dan berkata
“Kamulah yang pantas bahagia disana karena kamu mengajarkanku apa artinya kejujuran pada perasaan sendiri. Terima kasih. Aku akan selalu mengenangmu..”
           

Iman Tumorang
CERPEN : Maafkan Aku dan Jiwaku - written by Iman Tumorang , published at 7:28 PM, categorized as Education , Story (Cerpen) . And have 0 comments
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID
Theme designed by Damzaky - Published by Proyek-Template
Powered by Blogger